Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Cerpen

Contoh Cerpen

DIJERAT CINTA

Oleh:

Sopyan Hardyansyah

 

Rasanya perasaanku ini dibawa kenegeri antah berantah, yang mana pastinya disana ditumbuhi segala bebungaan merah, ungu, dan putih. Aku sendiri sebelumnya tidak pernah merasakannya, akan tetapi sekarang? Ah… dadaku rasanya membuncah-buncah.

Dalam dadaku hanya ada dia, seorang gadis kecil berkudung biru lembut, Tuhanaku hidup - buktinya jantungku berdebar sejak tadi, terus dan terus saja tanpa henti. Yang lebih dahsyat adalah aliran darahnya, begitu mengalun ritmis, seirama dengan pikiranku saat ini.

Folling in love” mungkin itu kata yang tepat untuk dikatakan; sedangkan untuk menceritakan bagaimana rasanya... ‘susah pokonyaharus dicoba dulu baru dapat dipahami. Yang pasti sekarang ini, aku maunya selalu tersenyum, inginnya tertawa, bahkan terkadang tergelitik juga dengan sentuhan-sentuhan nadanya; naïf juga yah kalau diutarakan.

Aktivitas semuanya menjadi terganggu, menyebalkan memang, akan tetapi indah untuk dinikmati, emmhaku dibawa kemana ini, aku harap ga ada yang menolongku yah.

Entah bagaimana awalnya, tapi ini alami saja terjadi padaku, belaian serta manjaannya begitu pekat serta indah untuk dinikmati. Sepertinya aku jadi meriang sendiri, tapi ini beda, sekujur tubuhku hangat dibuatnya serta berdebar jadinya.

Jika esok-lusa aku bertemu dengannya lagi, aku akan menahannya untuk kemudian katakan “I love you” ditelinganyaga nahaaaanmentari segeralah terbenam dan cepatlah muncul kembali, hanya itu harapku saat ini.

Siang dan malam begitu cepat berlalu - sebagai tanda bahwa hari tentunya berpihak padaku. Hari ini aku bangun lebih awal dari pagi-pagi sebelumnya, sengaja itu semua ku lakukan karenasesuatu’. Barang-barang sekolahpun telah siap semuanya di tas, karena sebelumnya telah dipersiapkan sejak malam tadiaduh gembiranyahari ini aku akan berjumpa dengannya.

Ditengah perjalananku menuju sekolah, dia – gadis berkerudung biru itu lagi-lagi membuatku berdebar-debar, akan tetapi kali ini debarannya berbeda, semacam degupan keras dan entahlah, rasanya aku ingin membawa serta menyeretnya sampai jauh, namun aku terlalu kaku untuk melakukan itu.

Entah dengan siapa dia sekarang, yang pasti dipemandanganku sekarang mereka sedang masyuk bermesraan, berdekapan, dan saling berpandangan ‘panaass’, ‘huh... sabarr’. Laki-laki yang sekarang sedang mendekapnya tidak tampan-tampan amat, kulitnya yang putih bersih serta perawakannya yang ramping, belum lagi mode pakaiannya yang biru bercampur pink bahkan menjadikannya seperti laki-laki melankolis, yah masih tampanan gue lah, walaupun sebenarnya kulitku ini agak kecoklat-coklatan ‘bodoh’.

Tanpa mengindahkannya akupun berlalu begitu saja, seperti kendaraan yang saat ini kutumpangi - ia terus saja melaju tanpa memikirkan bagaimana perasaanku, maklum mobil angkot kan kejar setoran.

Sepanjang jalan, kerikil dan bebatuan ternyata tidak menjadi penghalang kencangnya laju kendaraan yang umum dikenal “angkot” ini. Dadaku yang masih berdebar-debar kini debarannya makin sempurna saja. Selipan-selipan kelincahan mode berbeloknya itulah yang tak jarang membuat jantungku semakin soak karenanya.

“Aw!” bibirku terjedot pada sesuatu, walaupun keras, tapi nikmat juga, empuk rasanya. Seorang gadis disebelahku kini tersipu-sipu malu dan tersenyum-senyum padaku, entah mungkin karena benturan bibirku pada pipinya tadi ‘terimakasih ya Allah’ mati satu tumbuh satu.

Siuran angin sesaat itu mampu sejukan hatiku; sedangkan hangatnya pagi ini membuka cerita perasaanku yang baru.

“Arjuna...” bisikku kepadanya, sebagai sebuah tanda komunikasi awal perkenalan.

“Cinta...” balasnya sembari menggigit bibir ranumnya itu.

“nama yang baik” sekali lagi ku bisikan padanya.

“Cinta?” dia ujarkan itu sekali lagi dengan nada penegasan sembari tersipu-sipu.

“iyah, cinta” sahutku dengan lekasnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar