Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Mulai Menulis

Mulai Menulis

KENAKALAN YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM MENJADI SEORANG PENULIS

Oleh

Sopyan Hardyansyah

 

 

Hallo... selamat pagi J

Hari ini saya akan menyajikan beberapa kenakalan yang harus dimiliki oleh seorang penulis khususnya ketika ia akan bersibaku dengan kegiatan start awal atau pekerjaannya sebagai seorang penulis. Baiklah, untuk mempersingkat waktu kita mulai saja yah pembahasannya.

Ada beberapa kenakalan yang harus dilakukan oleh sobat untuk menjadi seorang penulis, berikut ini adalah kenakalannya:

 

& Mulailah menulis buku harian

Menjadi seorang penulis siapa sih yang tidak mau? Dengan hobi kecil menulis diary (buku harian) saja, kita sebenarnya sudah memulai menjadi seorang penulis, dan ingatlah bahwa semua hal itu melalui proses yang panjang, dan salah satu dari permulaan untuk menjadi seorang penulis adalah mulai menulis, contohnya seperti tadi yang telah saya katakan bahwa menulis dibuku diary adalah awal nakal untuk menjadi seorang penulis yang luarr biasa; mudah bukan?

 

& Mulai belajar sensitif dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitar

Mulailah sensitif dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitar, dengan cara ini, biasanya kita akan terbantu menjadi peka dengan perasaan yang kita miliki, sehingga seringkali apapun yang dirasakan dan menjadi kehendak hati itu akan terasa begitu puitis bila diujarkan atau dituliskan. Contoh misalnya bila kita sedang sakit hati karena diputukan sama si doi, sebaiknya kita bumbui saja dengan bumbu fiksi atau rekaan yah, agar rasanya tidak terlalu sepat atau asam bila dicicipi, coba perhatikan teks dibawah ini dengan seksama:

Tubuhnya yang baik dipemandanganku itu berdiri dengan tegapnya, pertanda ia siap untuk menjamah semua kesabaranku. Terang saja demikian, penjamahan itu dapat saja dimaknai sebagai keberanian untuk berindak sesuai dengan hasrat hati: hendak memutuskan tali hubungan yang sudah tidak akur lagi dengan pertimbangan sepihak dari si doi; padahal kan aku masih cin.nta, berat lagi (sambil larak-lirik kanan-kiri).

Mentari yang menyaksikan kami berdua tersipu-sipu malu, yah mentari itu tepatnya adalah pacar barunya si doi ‘seb.bel!’ karena dia! hubungan kami berdua harus putus ditengah jalan... .

Untuk memulai menjadi orang yang sensitif secara perasaan, maka saya rekomendasikan pada sobat untuk sesekali waktu ‘mengintip’ (mengamati) situasi dan kondisi lingkungan sekitar, atau bahkan bila perlu, sobat bisa memperhatikan bagaimana ekspresi setiap orang ketika mereka mengeluarkan perasaannya baik itu dengan bahasa non-verbal (bahasa tubuh) maupun bahasa verbal (bahasa ujaran mereka atau kecenderungan mereka dalam berbahasa lisan), bila sudah dilakukan, maka rangkumlah semua kejadian itu didalam perasaan sobat, untuk kemudian ditambahkan bumbu-bumbu fiksi (khayalan) karena tidak semuanya harus diproses dengan keseriusan kan? Kannya lagi kan kasihan sama otak kitanya, bet.tul?

 

& Mulai menggemari kegiatan membaca

Bagaimanapun juga, menulis adalah tahapan terakhir dari keterampilan berbahasa, setelah sebelumnya mengalami proses menyimak, berbicara, dan membaca. Pada proses menyimak dan membaca, yang lebih dominan adalah reseptif (hanya menerima pesan atau informasi saja) sedangkan pada proses berbicara dan menulis, kita dituntut untuk lebih banyak menghasilkan dan menyampaikan ide, gagasan, pikiran, hasrat (kehendak), informasi, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita bisa menghasilkan atau menyampaikan informasi bila kita sendiri kekurangan ilmu pengetahuan umum sebagai penunjangnya? Oleh karena itu sob, membaca adalah jawabannya, karena dengan membaca, banyak sekali kosakata yang mungkin tadinya kita tidak mengetahuinya, sehingga akhirnya mengetahui; kemampuan untuk mengenal tanda baca pun pada akhirnya akan kita kantongi secara tidak langsung loh, karena bagaimanapun juga ketika membaca sebenarnya kita melakukan pengujaran kembali bahasa tulis kedalam bahasa lisan dengan mempergunakan tanda-tanda yang bermakna didalam sebuah tulisan, seperti misalnya: tanda titik untuk tanda pemberhentian (pengakhiran kalimat, paragraf, atau wacana); tanda koma sebagai tanda pemberhentian sejenak untuk mengambil nafas; tanda titik koma sebagai tanda yang bermakna ada kalimat serupa yang diulangi dan masih menjelaskan kalimat sebelumnya, atau yang seharusnya diakhiri tanda titik, namun dikarenakan masih berhubungan dan masih perlu dilanjutkan maka saya rekomendasikan teman-teman untuk memakai tanda titik koma ini yah J. Sebenarnya untuk tanda baca ini masih banyak lagi jenis-jenisnya, ini hanya sekedar rangsangan saja, agar sobat-sobat tertarik untuk menggali lebih banyak lagi tanda baca yang lainnya. Jangan patah semangat untuk mencari dan menggalinya yah J.

Tahukah sobat, bahwa ketika kita melakukan membaca sebenarnya dunia luar sudah siap untuk dikunjungi, mengapa demikian yah? Karena biasanya penulis akan menggambarkan dan menceritakan bagaimana situasi dan kondisi kebudayaannya, jadi dengan membaca buku kita sebenarnya sudah seperti terbang ketempat sana dan sini loh, gratis lagi.

Kesimpulannya adalah, untuk menjadi seorang penulis, kita sebaiknya memulai dengan kenakalan (usaha) kita, karena untuk menjadi seorang penulis itu memerlukan proses dan anggaplah kenakalan itu adalah sebuah pembelajaran bagi kita, untuk menjadi lebih baik. Dalam hal ini kenakalan yang dimaksud dalam konteks baik, seperti misalnya mulai menulis buku harian, mulai mensensitivkan perasaan, dan yang terakhir adalah banyak-banyak nakal dengan kegiatan membaca.

 

Sobat, sekian dahulu tulisannya yah, semoga bermanfaat, semangat selalu J!

Wassalam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar