Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

HUBUNGAN ANTARA BERNYANYI DENGAN SEBAB-SEBAB MENGAPA SESEORANG DAPAT MENGKLAIM SUATU LIRIK SESUAI DENGAN TRAGEDI PENGALAMAN PRIBADINYA

HUBUNGAN ANTARA BERNYANYI DENGAN SEBAB-SEBAB MENGAPA SESEORANG DAPAT MENGKLAIM SUATU LIRIK SESUAI DENGAN TRAGEDI PENGALAMAN PRIBADINYA

HUBUNGAN ANTARA BERNYANYI DENGAN SEBAB-SEBAB MENGAPA SESEORANG DAPAT MENGKLAIM SUATU LIRIK SESUAI DENGAN TRAGEDI PENGALAMAN PRIBADINYA

 

Oleh

Sopyan Hardyansyah

 

Bernanyi merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan dalam kegiatan mengolah kecerdasan berbahasa. Untuk mengolah kecerdasan bahasa sebenarnya tidaklah mudah, bahkan ada kalanya kita membutuhkan orang lain sebagai lawan bicara. Namun demikian, apa yang akan terjadi pada orang-orang yang selalu memilih untuk berdiam diri tanpa mau berinteraksi dengan orang lain dikarenakan ada perasaan rendah diri atau apapun itu alasannya yang menyebabkannya pada akhirnya lebih memilih menyendiri saja, tentu saja bagi mereka yang mengalami krisis seperti itu, sebaiknya mencari alternatif lain sebagai usaha untuk melatih kecerdasan bahasanya.

Bernyanyi sangatlah populer untuk memecahkan masalah yang telah dipermasalahkan pada pembahasan diatas. Pada intinya dengan bernyanyi setidaknya kita tidak perlu membutuhkan banyak orang untuk merangsang fungsi kebahasaan kita, seperti misalnya respon atau tanggapan terhadap suatu masalah atau bahkan berbicara untuk mengeluarkan berbagai ekspresi baik itu dalam bentuk kesetujuan maupun ketidaksetujuan.

Dalam sebuah lirik saja - setidaknya sudah terdapat beragam perasaan yang diungkapkan oleh si pencipta lagu, dengan demikian, diharapkan audiens (pendengar) dapat dengan langsung menanggapi perasaan tersebut apakah itu dengan larutnya emosi audience terhadap lirik lagu, atupun terbawa emosi sehingga akhirnya ikut-ikutan bernyanyi.

Pada hakikatnya, masalah pada setiap orang itu sama, yakni mengalami krisis ketidakpuasan perasaan yang tidak sesuai dengan ego pribadinya; apakah itu dalam bentuk perasaan cinta, senang (bahagia), dan harapan (cita-cita). Karena kesamaan hakikat permasalahan itu relatif sama, sehingga menyebabkan sebuah lirik dapat diterima oleh siapa saja, walaupun pada praktiknya pastilah terdapat perbedaan antara tragedi dalam lirik dengan masing-masing cerita tragedi yang teralami oleh masing-masing kepala.

Lalu bagaimana prosesnya, perbedaan tragedi lirik itu, pada akhirnya dapat sesuai bahkan, menjadi sama persis dengan kejadian yang teralami oleh setiap kepala, sehingga hasilnya menjadi ‘akur’ (sama)?

Semua orang memiliki daya imajinasi serta pengontemplasian (perenungan) masing-masing; dan hal inilah yang menjadi dugaan sementara mengapa semua orang menganggap bahwa lirik itu adalah cerita tragedinya, padahal belum tentu seperti apa yang ia tafsirkan atau terjemahkan. Hanya ada beberapa kesamaan perasaan serupa saja sehingga pada akhirnya setiap orang bisa mengatakan bahwa lirik itu “aku banget”.

Bila sudah mencapai pada taraf simpati dan empati, kecenderungan manusia adalah menetapan segala hal yang dianggapnya baik itu menjadi baik menurut keyakinan serta perasannya saja; akan tetapi, belum tentu apa yang dianggapnya baik itu benar-benar seratus persen baik; karena apapun yang didahului oleh perasaan senang, maka apapun yang tidak baik, maka hasilnya menjadi baik, begitupun sebaliknya: bila terdahului oleh perasaan benci atau tidak suka, maka walaupun itu baik, maka hasilnya akan menjadi tidak baik (buruk) dipemikiran serta keyakinanya. Oleh karena itu sikap kenetralan diperlukan dalam hal ini.

Simpati dan empati yang sifatnya apatis terhadap si penyanyi dan lagu indahnya merupakan faktor lainnya mengapa seseorang bisa mengklaim bahwa lirik itu benar-benar ‘aku banget’. Dalam praktiknya, bila sudah tertanam sikap apatis yang lebih cenderung memihak seperti ini, biasanya seseorang tidak akan mau mengkritisi bahkan menilai segala sesuatunya, baik itu dari segi norma ataupun nilai, karena sudah dianggap baik keberadaannya, sehingga audience (pendengar) hanya menjadi penerima pesan atau informasi secara pasif (menerima pesan begitu saja, tanpa adanya suatu pemikiran terlebih dahulu); sedangkan didalam isi liriknya itu selalu terdapat tujuan-tujuan tertentu yang menghendaki pendengarnya untuk selalu berfikir kritis. Namun demikian, pada akhirnya semua itu tergantung pada audiencenya sendiri, apakah ia mau menjadi pendengar yang aktif atau pasif, karena bagaimanapun mereka memiliki hak untuk memutuskan apa yang menjadi kehendaknya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar