Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

ANALISIS TULISAN BERNADA OTORITATIF

ANALISIS TULISAN BERNADA OTORITATIF

ANALISIS TULISAN BERNADA OTORITATIF

Oleh

Sopyan Hardyansyah

 

       I.            MENULIS

Tulisan merupakan suatu kegiatan dalam melambangkan bahasa lisan kedalam bahasa tulis, dengan mempergunakan alat tulis, seperti misalnya bolpoin dan kertas. Dalam gaya penulisannya, karangan ilmiah atau tulisan ilmiah memiliki otonom tersendiri seperti misalnya: didasarkan atas fakta dan data hasil observasi, pengamatan, maupun penelitian; baik itu dilaksanakan di Laboratorium maupun dilingkungan masyarakat. Selain hal tersebut, tulisan ilmiah juga biasanya harus bisa dipertanggungjawabkan agar data yang ada dalam tulisan benar-benar valid keberadaannya.

Untuk membuat sebuah tulisan atau karangan, baik itu yang bersifat fiksi (rekaan) maupun nonfiksi (nyata atau ilmiah) terlebih dahulu kita harus menetapkan beberapa hal yang nantinya akan menjadi referen kita dalam menulis. Adapun penetapan beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut:

a.      Menetapkan tujuan

Tujuan sangat penting, agar tulisan kita terarah dan fokus terhadap suatu topik permasalahan yang kita bahas atau angkat dalam karangan. Selain itu, tujuan ini akan membantu kita untuk mensistematiskan karangan antara apa yang hendak disampaikan dalam karangan yang berbentuk ide, gagasan, cita-cita, maupun harapan kepada pembaca dengan koherensi. Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur kata atau kelompok kata yang membentuk kalimat. (Keraf, Gorys. 1979:38). Secara singkat tujuan dalam konteks menulis ini diartikan sebagai apa saja yang ingin dicapai penulis dalam tulisannya.

 


Sopyan Hardyansyah adalah mahasiswa semester 4B, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prodi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (BSID), Universitas Bale Bandung (UNIBBA).

 

b.      Membuat topik

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Topik merupakan pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dan sebagainya KBBI (2003:1207). Apa saja yang menarik perhatian kita dapat saja dijadikan topik dalam karangan kita: pengalaman-pengalaman dimasa lampau, pengalaman masa kini, keluarga, cita-cita, karier, alam sekitar, persoalan-persoalan kemasyarakatan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, mata pencaharian, dan sebagainya. (Keraf, Gorys. 1979 : 109).

Topik dalam peranannya memiliki fungsi sebagai bahan acuan (referen) bagi penulis untuk memperjelas ‘bahasan tulisannya - mengenai apa?’; adapun topik ini biasanya sering disamakan artinya dengan tema. Topik ini biasanya akan mudah ditemukan oleh pembaca, apabila ia telah selesai membaca bacaannya. Oleh karena itu diperlukan suatu kesistematisan, kejelasan, serta kefokusan terhadap pemaparan tulisan dari pihak penulis, sehingga tercipta suatu kekoherenan tulisan yang akan memudahkan pembaca untuk mengetahui isi dan maksud penulis dibalik tulisannya.

 

c.       Mencari ide atau inspirasi

Mencari ide atau inspirasi ini merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam memulai menulis. Biasanya inspirasi atau ide ini akan menjadi acuan kita dalam membuat tulisan, yang nantinya akan kita jabarkan dalam tulisan kita; selain itu ide dan inspirasi ini akan menjadi ruh dalam topik apa yang kita angkat, apakah masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, atau alam sekitar. Untuk mencari inspirasi ada banyak cara antara lain: 1) baca buku, 2) baca kitab suci, 3) baca kamus, 4) terbitan berkala, 5) memancing atau melihat suasana luar rumah, 6) menentukan prioritas (Komaidi, Didik. 2011 : 20).

Suatu ide atau inspirasi ini biasanya akan berpengaruh terhadap tulisan yang penulis buat, sebagai contoh misalnya, apabila seorang sastrawan hidup didalam lingkungan yang serba tidak menguntungkan, maka situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan tersebut akan menjadi suatu inspirasi baginya untuk bercipta-karya. Oleh karena itu, penulis yang tidak memiliki ide dan inspirasi dipastikan tidak akan menghadirkan tulisan yang kreatif-inovatif apabila ia tidak memiliki hal-hal tersebut; sedangkan suatu tulisan diharapkan mampu menghadirkan sesuatu yang baru dan dapat memperbaiki (memperbaharui) tulisan sebelumnya.

 

    II.            TULISAN BERNADA OTORITATIF

Tulisan yang bernada otoritatif menghasilkan karya ilmiah (the research paper). Tahap-tahap yang biasanya dilalui dalam tulisan ilmiah adalah sebagai berikut:

 

A.    Memilih Pokok/Topik

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Topik merupakan pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dan sebagainya KBBI (2003:1207). Atau dengan kata lain, topik merupakan suatu masalah yang akan dibahas atau dipaparkan dalam tulisan oleh penulis.

Untuk mencari topik, tidaklah susah apabila kita jeli dan sensitiv terhadap situasi dan kondisi yang terjadi dalam lingkungan atau diri kita sendiri. Apa saja yang menarik perhatian kita dapat saja dijadikan topik dalam karangan kita: pengalaman-pengalaman dimasa lampau, pengalaman masa kini, keluarga, cita-cita, karier, alam sekitar, persoalan-persoalan kemasyarakatan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, mata pencaharian, dan sebagainya. (Keraf, Gorys. 1979 : 109).

Topik ini berguna untuk membantu penulis dalam memfokuskan diri terhadap suatu masalah yang menjadi bahan persoalannya, dengan demikian penulis tidak akan mudah beralih dari suatu topik ke topik lainnya. Oleh karena itu biasanya topik ini akan menjadi inti yang dapat mewakili keseluruhan pemaparan dalam tulisan.

 

B.     Membaca Pendahuluan

Membaca pendahuluan sebelum kita menulis, difungsikan untuk mempermudah kita dalam mencari tahu gambaran umum suatu referensi yang nantinya akan kita pergunakan sebagai acuan dalam menulis; terkait dengan hal tersebut, kita juga akan mudah mengetahui apakah sumber yang tersedia dalam referensi tersebut jumlahnya sedikit, atau tidak; karena biasanya didalam bagian pendahuluan penulis sebelumnya telah menuliskan latar belakang ia menulis, tujuan dari kepenulisannya, dan apa saja yang ia tulis dalam tulisannya, setidaknya akan sedikit diulas dalam bagian pendahuluan secara singkat dan padat. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui latar belakang dari ditulisnya suatu tulisan, tujuannya, serta garis besar dari isi tulisan dari suatu buku, maka kita bisa mengetahuinya dengan cara membaca bagian pendahuluan.

 

C.    Menentukan Bibliografi Pendahuluan

Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion: yang berarti buku dan Graphein: yang berarti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku.[spasi]Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliofrafi [bibliografi] adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan1.

Sedangkan bibliografi dalam KBBI (2003:147), diartikan sebagai daftar buka atau karangan yang merupakan sumber rujukan dari sebuah tulisan atau karangan atau daftar tentang suatu subjek ilmu; daftar pustaka.

Penulisan bibliografi ini, disesuaikan dengan referensi yang kita jadikan sebagai bahan rujukan, seperti misalnya apabila kita merujuk pada sumber buku maka penulisannya sebagai berikut:

Nama pengarang dibalik. tahun penerbitan. judul buku dicetak miring (italic). Tempat penerbitan: penerbit.

Contoh:

Komaidi, Didik. 2011. Menulis Kreatif. Yogyakarta: Sabda Media.

Mulyana, Yoyo. Tahun tidak disebut. Pendidikan Sastra dan Karakter Bangsa . Tempat penerbitan tidak disebut: Jurdiksastrasia FBBS UPI.

 

 

1pengertian bibliografi tersebut diperoleh dari: http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/05/pengertian-bibliografi-dan-manfaatnya.html

Apabila bibliografi tersebut diperoleh dari media internet, contoh:

Http://www.boy-creative.blogspot.com/

Http://www.inspirasidanmotivasiuntukhidup.blogspot.com/

 

D.    Membuat kerangka Pendahuluan

Kerangka pendahuluan berguna bagi penulis terutama untuk menjelaskan latar belakang ditulisnya suatu tulisan; untuk menjelaskan tujuan ditulisnya suatu tulisan; harapan-harapan penulis terhadap pembaca maupun terhadap dirinya sendiri; serta menggambarkan secara garis besar apa saja konten tulisan yang ditulisnya.

Cara membuat kerangka pendahuluan, adalah sebagai berikut:

a.       Penjelaskan latar belakang ditulisnya suatu tulisan,

b.      Penjelaskan tujuan ditulisnya suatu tulisan,

c.       Harapan-harapan penulis terhadap pembaca maupun terhadap dirinya sendiri,

d.      Penggambaran secara garis besar apa saja konten tulisan yang ditulis.

 

E.     Membuat Catatan

Catatan (kutipan) merupakan pungutan; petikan; nukilan; sifat; 2 ling pengambil alihan suatu kalimat atau lebih dari hanya karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkokoh argumen di tulisan sendiri. KBBI (2003:619). Adapun fungsi dari catatan ini adalah sebagai penghargaan terhadap para penulis lainnya yang telah berjasa dalam bidangnya – menulis sesuatu yang berguna, sehingga tercipta suatu pengetahuan dan disiplin ilmu pengetahuan bagi masyarakat; selain itu pembuatan catatan juga difungsikan sebagai cara untuk menghindari atau mengurangi jumlah penjiplakan karya orang lain sehingga hak cipta atau hak ‘royalty’ penulis terjamin keberadaannya; sebuah catatan juga bisa digunakan untuk penerangjelasan mengenai suatu hal yang tidak diterangjelaskan didalam tulisan, dikarenakan untuk melugaskan tulisan.

Adapun contoh dari sebuah catatan adalah sebagai berikut:

Dewasa ini terjadi arus globalisasi dan modernisasi yang pesat1. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. … .

 

1Globalisasi adalah suatu fenomena yang terjadi akibat pesatnya komunikasi antar bangsa, sehingga batas-batas wilayah suatu Negara tidak Nampak lagi (memudar); sedangkan modernisasi, merupakan perkembangan dalam bidang tekhnologi.

 

Atau bisa juga seperti ini:

 

Catatan Pembuka

 

DARI RUANG SASTRA KE SASTRA YANG MERUANG

(Secabik Pengalaman Akademik Bersama Prof. Dr. H. Yoyo Mulyana, M.Ed)

Sumiyadi

 

 

Dr. Sumiyadi, M. Hum. Adalah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI. Menyelesaikan S1 di IKIP Bandung, S2 di Ilmu Sastra Universitas Indonesia, dan S3 Pendidikan Bahasa Indonesia SPs UPI.

 

Pada prinsipnya, setiap kartu catatan memuat tiga hal penting, yaitu: 1) suatu pokok permasalahan, 2) suatu catatan, dan 3) suatu identifikasi mengenai sumber (Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008:184). Adanya catatan ini sangat membantu dalam memulai proses menulis bagi penulis karena biasanya penulis seringkali lupa terhadap topik yang telah ditetapkan sebelumnya dikarenakan menemukan topik baru. Oleh karena itu, untuk menghindari hilangnya topik pertama yang telah ditetapkan, yang dikarenakan telah menemukan topik baru, seorang penulis haruslah membuat suatu catatan.

Adapun contoh dari pembuatan catatan tersebut adalah sebagai berikut:

Pokok Masalah : Hubungan antara Pembaca dengan Karya Sastra

 

Catatan : Menjelaskan hubungan antarapembaca dan karya sastra, tidak lepas dari teori legetika dan poetica Segers. Menurut Segers dalam buku “Pendidikan Sastra dan Karakter Bangsa” Legetika adalah… . Poetica adalah… .

 

Identifikasi : Sundusiah, Dalam buku “Pendidikan Sastra dan Karakter Bangsa” hal. 89.

 

F.     Menyusun Kerangka Akhir

Dalam menulis naskah akhir karya tulis kita, ada empat hal yang perlu diperhatikan baik-baik, yaitu: a) Judul, b) Halaman Judul, c) Kerangka Akhir, d) Bibliografi. (Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008:188).

Perhatian terhadap judul, dimaksudkan agar judul yang telah dipilih oleh penulis benar-benar sesuai dengan apa yang ia tulis; halaman judul, dimaksudkan agar tidak ada kesalahan penempatan tulisan, tujuannya adalah agar tercipta suatu kesistematisan pembahasan dan penomoran; kerangka akhir, dimaksudkan sebagai acuan dalam memeriksa kembali tulisan yang telah selesai dibuat, apakah sesuai dengan kerangka yang telah dibuat sebelumnya atau tidak; dan terakhir adalah bibliografi, yang dimaksudkan untuk mencantumkan bahan-bahan referensi, agar pembaca dapat memeriksa kembali dan menilai tulisan yang telah selesai- dan diselesaikan oleh penulis.

 

 

 

G.    Menyusun Naskah Pertama

Menyusun naskah pertama adalah sebuah langkah untuk mulai menulis. Biasanya pada tahap ini, kita mulai menanam suatu ide atau gagasan yang menjadi topik tulisan. Adapun pengembangannya, ide atau gagasan tersebut dibuat berdasarkan konteks permasalahan penulis yang berkenaan dengan apa yang dipaparkan dalam tulisan tersebut.

Pengembangan naskah pertama bisa secara induktif, deduktif maupun campuran diantara keduanya2). Namun demikian, pada akhirnya, penentuan metode yang akan dipergunakan disesuaikan dengan selera penulis itu sendiri. Jadi dalam hal ini tidak ada yang harus dipermasalahkan mengenai metode mana yang harus dipergunakan, karena disesuaikan dengan selera penulis untuk mengembangkan tulisannya.

Bila seorang penulis mengalami kendala dalam menulis naskah pertama, ada baiknya dimulai oleh suatu kutipan baik secara reduksi ataupun asimilasi3).

 

H.    Mengadakan Revisi

Kata revisi dalam KBBI (2003:954) diartikan sebagai peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan. Bila didalam suatu tulisan terdapat kesalahan-kesalahan seperti misalnya: kesalahan tanda baca dan kesalahan penulisan, penulis bisa mengadakan revisi untuk memperbaiki tulisan yang telah dibuatnya. Sehingga dihasilkan suatu tulisan yang bermutu dan berkualitas baik.

Menyunting atau mengedit (editing) merupakan proses memperbaiki atau menyempurnakan tulisan baik secara redaksional maupun substansial (isi). Orang yang melakukan itu disebut penyunting (editor) atau redaktur. (Komaidi, Didik. 2011:83). Bila dibandingkan dengan, pengertian revisi menurut KBBI seperti telah tertera diatas, dapatlah

 


2)pengembangan naskah secara induktif, mengandung pengertian: pokok permasalahan (inti permasalahan) ditempatkan pada akhir paragraf. Sedangkan uraian penjelasnya diletakan diawal paragraf.; untuk pengembangan secara deduktif sebaliknya; dan pengembangan induktif-deduktif ditandai oleh adanya penempatan pokok (inti) permasalahan diawal maupun diakhir paragraf.

3)kutipan reduksi adalah suatu kutipan yang dilakukan dengan cara menghilangkan sebagian kata yang dianggap tidak penting; sedangkan kutipan asimilasi adalah membuat rangkuman dengan kata-kata sendiri serta menyajikan ide yang terkandung dalam teks aslinya dengan gaya kita sendiri. (Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008:178).

disimpulkan bahwa kata revisi bersinonim dengan kata menyunting atau mengedit, yang diantara kesemuanya itu terdapat kesamaan arti yakni sama-sama memperbaiki tulisan apakah tanda bacanya ataupun ejaannya.

 

I.       Menyusun Naskah Akhir

Menurut Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul “Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” menyatakan bahwa dalam penulisan naskah akhir ada empat hal yang perlu diperhatikan, yakni:

a)      Judul,

b)      Halaman judul,

c)      Kerangka akhir,

d)     Bibliografi.

 

J.      Mengoreksi Cetakan Percobaan

Mengoreksi cetakan percobaan ini difungsikan sebagai ketelitian penulis terhadap apa yang ditulisnya. Adapun beberapa hal yang dikoreksi dalam cetakan percobaan ini adalah sebagai berikut: a) bagaimana tipografi karangannya, b) bagaimana pungtuasinya, c) bagaimana keterstrukturan antara satu bagian karangan dengan bagian lainnya (kekoherenan karangan), d) dan bagaimana kejelasan tulisan setelah dicetak atau diprint; selain itu, pada bagian ini, penulis dapat meminta bantuan orang lain untuk menilai karangan yang telah diselesaikan.

 

III.            RANGKUMAN

1. Tulisan merupakan suatu kegiatan dalam melambangkan bahasa lisan kedalam bahasa tulis, dengan mempergunakan alat tulis, seperti misalnya bolpoin dan kertas.

2. Karangan ilmiah atau tulisan ilmiah memiliki otonom tersendiri seperti misalnya: didasarkan atas fakta dan data hasil observasi, pengamatan, maupun penelitian

3. Tulisan ilmiah harus bisa dipertanggungjawabkan agar data yang ada dalam tulisan benar-benar valid keberadaannya.

4. Untuk membuat sebuah tulisan atau karangan, baik itu yang bersifat fiksi (rekaan) maupun nonfiksi (nyata atau ilmiah) terlebih dahulu kita harus menetapkan beberapa hal yang nantinya akan menjadi referen kita dalam menulis. Adapun penetapan beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut: a. Menetapkan tujuan, b. Membuat topik, c. Mencari ide atau inspirasi;

5. Untuk mencari inspirasi ada banyak cara antara lain: a) baca buku, b) baca kitab suci, c) baca kamus, d) terbitan berkala, e) memancing atau melihat suasana luar rumah, f) menentukan prioritas (Komaidi, Didik. 2011 : 20).

6. Tulisan yang bernada otoritatif menghasilkan karya ilmiah (the research paper). Tahap-tahap yang biasanya dilalui dalam tulisan ilmiah adalah sebagai berikut: Memilih Pokok/Topik; Membaca Pendahuluan; Menentukan Bibliografi Pendahuluan; Membuat kerangka Pendahuluan; Membuat Catatan; Menyusun Kerangka Akhir; Menyusun Naskah Pertama; Menyusun Naskah Akhir.

7. Memilih Pokok/Topik; Topik ini berguna untuk membantu penulis dalam memfokuskan diri terhadap suatu masalah yang menjadi bahan persoalannya, dengan demikian penulis tidak akan mudah beralih dari suatu topik ke topik lainnya

8. Membaca Pendahuluan difungsikan untuk mempermudah kita dalam mencari tahu gambaran umum suatu referensi yang nantinya akan kita pergunakan sebagai acuan dalam menulis; didalam bagian pendahuluan penulis sebelumnya telah menuliskan latar belakang ia menulis, tujuan dari kepenulisannya, dan apa saja yang ia tulis dalam tulisannya

9. Menentukan Bibliografi Pendahuluan; Bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion: yang berarti buku dan Graphein: yang berarti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku. Tujuan bibliografi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan

10. Membuat kerangka Pendahuluan; Cara membuat kerangka pendahuluan, adalah sebagai berikut:

a. Penjelaskan latar belakang ditulisnya suatu tulisan,

b. Penjelaskan tujuan ditulisnya suatu tulisan,

c. Harapan-harapan penulis terhadap pembaca maupun terhadap dirinya sendiri,

d. Penggambaran secara garis besar apa saja konten tulisan yang ditulis.

 

11. Membuat Catatan, fungsi dari catatan ini adalah sebagai penghargaan terhadap para penulis lainnya yang telah berjasa dalam bidangnya – menulis sesuatu yang berguna, sehingga tercipta suatu pengetahuan dan disiplin ilmu pengetahuan bagi masyarakat

pembuatan catatan juga difungsikan sebagai cara untuk menghindari atau mengurangi jumlah penjiplakan karya orang lain sehingga hak cipta atau hak ‘royalty’ penulis terjamin keberadaannya; sebuah catatan juga bisa digunakan untuk penerangjelasan mengenai suatu hal yang tidak diterangjelaskan didalam tulisan, dikarenakan untuk melugaskan tulisan.

12. Menyusun Kerangka Akhir

Dalam menulis naskah akhir karya tulis kita, ada empat hal yang perlu diperhatikan baik-baik, yaitu: a) Judul, b) Halaman Judul, c) Kerangka Akhir, d) Bibliografi. (Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008:188).

13. Menyusun Naskah Pertama

a)      pada tahap ini, kita mulai menanam suatu ide atau gagasan yang menjadi topik tulisan. Adapun pengembangannya, ide atau gagasan tersebut dibuat berdasarkan konteks permasalahan penulis yang berkenaan dengan apa yang dipaparkan dalam tulisan tersebut.

b)      Pengembangan naskah pertama bisa secara induktif, deduktif maupun campuran diantara keduanya

c)      pengembangan naskah secara induktif, mengandung pengertian: pokok permasalahan (inti permasalahan) ditempatkan pada akhir paragraf. Sedangkan uraian penjelasnya diletakan diawal paragraf.; untuk pengembangan secara deduktif sebaliknya; dan pengembangan induktif-deduktif ditandai oleh adanya penempatan pokok (inti) permasalahan diawal maupun diakhir paragraf.

d)     kutipan reduksi adalah suatu kutipan yang dilakukan dengan cara menghilangkan sebagian kata yang dianggap tidak penting; sedangkan kutipan asimilasi adalah membuat rangkuman dengan kata-kata sendiri serta menyajikan ide yang terkandung dalam teks aslinya dengan gaya kita sendiri. (Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008:178).

14. Menyusun Naskah Akhir

Menurut Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul “Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” menyatakan bahwa dalam penulisan naskah akhir ada empat hal yang perlu diperhatikan, yakni: a)Judul, b) Halaman judul, c) Kerangka akhir, d)Bibliografi.

 

IV.             KESIMPULAN

Dari analisis diatas yang telah dipaparkan, dapatlah disimpulkan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan melambangkan bahasa ujaran kedalam bentuk bahasa tulisan dengan menggunakan alat-alat tulis.

Baik tulisan (karangan) yang sifatnya fiksi maupun nonfiksi, diperlukan suatu topik serta ide-gagasan untuk mengarahkan permasalahan yang akan dipaparkan, sehingga akan mengantarkan pada ketercapaian tujuan yang dikehendaki penulis.

Dalam penulisan karangan nonfiksi, setidaknya harus melewati proses yang mencakup: pemilihan topik, pembuatan pendahuluan, menentukan bibliografi pendahuluan, membuat kerangka pendahuluan, membuat catatan, menyusun kerangka akhir, menyusun naskah pertama, mengadakan revisi, menyusun naskah akhir, dan mengoreksi cetakan percobaan. Proses tersebut merupakan bentuk tipografi dari karangan nonfiksi (ilmiah). Adanya proses tersebut menandakan bahwa pada karangan ilmiah segala sesuatunya didasarkan atas fakta dan data sesuai dengan keilmuan, serta pendapat para ahli yang mengemukakan pikirannya, pandangannya, maupun peramalan-peramalan atas sesuatu hal atau kejadian, dapat dipergunakan sebagai pemerkuat argumen-argumen di tulisan kita; selain hal tersebut, adanya proses dalam membuat karangan ilmiah ini, memberikan suatu identitas kode etik tersendiri bagi karangan jenis ini – bahwa untuk menulis karangan ilmiah tidaklah semudah menulis karangan biasa, dikarenakan adanya suatu tuntutan agar isinya dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak penulis terhadap pembaca yang akan menerima informasi dalam bentuk pengetahuan dan ilmu pengetahuan dari tulisannya, dengan jalan membaca.

 

BIBLIOGRAFI

 

http://blog.elearning.unesa.ac.id/tag/pengertian-sub-topik-menurut-ahli

 

http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/05/pengertian-bibliografi-dan-manfaatnya.html

 

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&rurl=translate.google.co.id&u=http://ezinearticles.com/%3FTechnical-Writing---Definition-of-Foreword,-Introduction,-and-Preface%26id%3D1404851&usg=ALkJrhjTbWMAuBNywyzcnAmhIbynidaGVw

 

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

 

Keraf, Gorys. 1994. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.

 

Komaidi, Didik. 2011. Menulis Kreatif. Yogyakarta: Sabda Media.

 

Tarigan, Guntur, Henry. Edisi Revisi, 2008. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

 

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar