Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

AMBISI

Membuat teks drama

AMBISI

 

 

Oleh:

Sopyan Hardyansyah

 

 

 

BABAK I

 

Dalam rumah, suasana sepi, hanya jangkrik yang mengerik-ngerik. Suasana pedesaan begitu terasa, yang mana suara gemericik air terasa begitu merdu dan syahdu menyuarakan suasana malam.

Rumah beserta isinya terasa gelap dan pengap, dikarenakan masih jauh dari penerangan. Yang ada hanya lampu cempor yang terpajang didinding bilik; sedangkan lilin sepotong menyala dengan anggunnya tepat di tengah-tengah Sukamto, Ayah, Ibu, dan seorang anak kecil.

Ditengah samar-samar lagu ‘hariring: ayang-ayang gung1 yang ditembangkan Ibu dan Adik, Ayah menyembulkan asap rokok yang entah seberapa banyaknya terkepul dan keluar dari mulutnya; sedangkan disatu sisi, Sukamto termengu dan berharap-harap agar kemauanya dituruti dan didukung oleh Ayah.

Ditatapnya langit-langit rumah yang sudah berjelaga oleh Ayah secara lamat-lamat; sedangkan Sukamto hanya terterunduk saja sedari tadi seraya memungut-mungut benang-benang yang terserak diatas karpet.

(sembari menyembulkan asap rokok, ayah menatap sukamto, dan kemudian tertawa)

(sukamto hanya cemas serta terterunduk dan menunjukan raut muka ketakutan serta ketegangannya)

Ayah: “Apa benar, kamu ingin menjadi guru?”

Sukamto:” Benar yah...”

Ayah: “Aaah... memangnya kamu tidak sadar apa dengan kondisi kita sekarang ini?”

(Ayah kembali menghisap rokoknya serta melepaskannya keudara)

Ayah: “kamu tahu nak, sibule yang kuliah itu, EMPAT TAHUN COBA BAYANGKAN!”

(Ibu segera membawa adik untuk tidur)

Didalam kamar lagi-lagi terdengar ‘hariring’ tembang: “Ayang-ayang gung

Ayah: “Sebaiknya kamu pikirkan lagi...”

(Ayah kembali menghisap rokoknya serta menyembulkannya ke atas dengan selesainya)

Sukamto: “Yah ...”

Ayah: “Sebaiknya jangan terburu-buru mengujarkan alasan-alasanmu, simpan saja dulu, setidaknya untuk membuat alasan yang LOGIS ITU, HARUS merenung, berfikir, beristirahat terlebih dahulu, IYAH TOH?”

(Ayah kemudian bergegas menyelendangkan samping sarungnya, untuk kemudian pergi entah kemana)

Sukamto: “Yah ...”

Ayah: ”AYAH MAU TIDUR, ISTIRAHAT CAPEK”

Kini Sukamto ditengah ruangan rumah sendirian, hanya lilin sepotong dan petromak yang menjadi temannya. Ditengah keheningan malam, ia merenung entah berapa lama...

(AAAAAAA. AH! Sukamto berteriak dengan lantang dan sekeras-kerasnya; Ayah segera berlari keruangan tempat Sukamto tadi berteriak, dibawanya ‘iteuk’ serta dipukulinya anaknya itu, setelah merasa puas, Ayahpun kembali kekamarnya)

Kini diruangan itu, hanya terdapat sukamto yang sedang meringis kesakitan serta terisak-isak nada lagunya.

Lilin dihadapannya itu ditiupnya, begitupun dengan petromak yang terpampang diatas dinding juga ikut dipadamkannya. Semua ruangan menjadi gelap gulita, namun dibalik kegulitaan itu ada Sukamto yang masih meringis dan terisak-isak kesakitan.

 

BABAK II

 

Ruangan Guru begitu senyap, dikarenakan semua tenaga pengajarnya sedang sibuk mengajar dikelasnya masing-masing. Untuk melepas sedikit kesenyapan itu, Sukamto membaca bukunya yang lusuh diruang lobi.

(Bel, tanda berakhirnya mata pelajaranpun berbunyi; dengan segeranya, murid-murid SMP itu berhamburan keluar, lalu-lalang begitu saja didepan Sukamto, namun ia tetap membaca dan tidak mengindahkan lalu-lalangnya siswa)

Guru Senior: “Hermh”

Sukamto dengan segera berdiri dan mengangukkan sedikit kepalanya kepada guru senior itu, tiada lupa senyumnyapun ia suguhkan sebagai tanda penghormatan.

Guru Senior: “Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?”

(Sukamto lagi-lagi menganggukan kepalanya)

Guru Senior: “Mari pak!”

(keduanya berjalan menuju ruangan tamu)

Guru Senior: “Silahkan Duduk!”

Sukamto: “Terimakasih”

(selekasnya merka duduk, bahan pembicaraanpun mengalir begitu saja)

Guru Senior: “Sepertinya ... harus sekali lagi yah saya bertanya, ada yang bisa saya bantu?”

(kemudian keduanya tertawa,dan selepasnya suasana hening sejenak)

Sukamto: “begini loh Bu ...”

(belum selesai pembicaraannya, Sumirah, seorang wakil kepala sekolah masuk kedalam ruangan tamu)

Sumirah: (seraya masuk ...) Bu ERNA, KATANYA ADA TA ...

(Bu Erna dan Sukamto memandang kearah Bu Sumirah)

Dengan memanggutkan kepala tegasnya itu, sebagai tanda penghormatan, ia dengan sempatnya mengedipi Sukamto.

(Bu Erna tersenyum; sedangkan Sukamto karena risih, selepas ia mengganggukkan kepalanya, iapun memalingkan mukanya)

Merasa tidak terima, Bu Sumirah kemudian langsung ikut berdiskusi dalam penjamuan tamu itu.

Sukamto: “Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk ...”

Sumarni: “Es es es ... Bapa ini gimana sih, memangnya saya disini dianggap apa? Kenalann dullu, IYAH KAN BU ERNA?”

Sukamto: “aah ... saya lupa, nama saya Sukamto Bu”

Sumarni: “Ooooh... pa Sukamto ...”

(sekali lagi Bu Sumarni mengedipkan matanya)

Sukamto: “kalau begitu saya permisi”

(ditengah Sukamto sedang membereskan map-mapnya, untuk kemudian ia berdiri...)

Sumarni: “Saya tahu, pak Sukamto ini, datang kesini, pasti hendak melamar kerja yah disini, dan kalau benar ... sebaiknya saya katakan: NO WEY”, “Silahkan, pintu disana sangat terbuka LEBARRR untuk anda”, “cukup bisa dipahami, iyah kan Bu Erna...?”

(tanpa mengindahkan perkataan Bu Sumirah, iapun lekas hendak pergi)

Bu Erna: “Tunggu pak Sukamto...”

(ia kemudian menghampirinya)

Bu Erna: “Apakah anda memiliki sarana dan prasarana untuk mengajar disini?”

(Sukamto hanya tersenyum dan menatap barang sebentar Ibu Erna)

(Sukamto menggelengkan kepala)

Bu Erna: “dan itulah alasan kami yang lainnya, mengapa kami langsung menyuruh anda segera meninggalkan tempat ini, dan-nya lagi, saya harap bapa tidak menjadikan alasan penolakkan bapa terhadap Bu Sumirah untuk menjelek-jelekkan sekolah kami, jika kelak anda sudah keluar dari lingkungan sekolah ini. Karena apa? Logisnya, anda tidak memiliki sarana dan prasarana untuk mengajar disini, secara ... sekolah ini tarafnya ‘SBI’ loh pak... , jadi saya harap bapak bisa memahaminya”

(Bu Erna tersenyum dan mempersilahkan kepergian Sukamto dengan kedua belah tangannya)

Sukamto kemudian lekas pulang.

 

BABAK III

 

Setibanya dirumah ia langsung pergi kedapur serta membuka periuk yang ditutupi kerudung saji.

Sukmanto: “Mak, ko tidak ada nasi dibakul?” (sembari berlaga seperti orang idiot)

Emak hanya terdiam seribu bahasa

Adik: “Mak laparrr ...”

Emakpun segera membawanya pergi kekamar, untuk lekas ditidurkan. Tiada lupa tembang: “ayang-ayang gungpun terdengar kembali dikamar itu”

Didapur, Sukamto berdiri sendiri, dihadapanya bakul periuk kosong, piring-piring serta gelas-gelas kering bersih.entah berapa lamanya ia berada disana

(AAA. AAA.AH!) iapun kembali berteriak. Mendengar teriakan Sukamto, Ayah segera berlari ketempat dimana Sukamto berteriak tadi sembari membawa ‘iteuk’. Ditengah perhelatan ringisan sukmanto yang mengaduh itu, suara ambulan rumah sakit jiwa terdengar ramai sekali.

Dokter I: “Maaf pak, dimana anak yang bapa maksud?”

Dokter III: “Semakin cepat ditangani semakin baik”

Dokter I, II: (dengan serempak) “Benar”

(Sukamto menggerung-gerung, dan membelalakkan matanya sesekali, ditengahnya demikian ia tertawa, dan mengaduh-aduh kesakitan)

Diseretnya ia oleh ketiga dokter itu; diluar warga sudah berkerumun.

Warga I: “Kasihan yah”

Warga II: “he. Emh”

Warga III: “Hendak memeluk gunung, tapi apa daya keburu gila”

Warga IV: “Gembleng, yang ada itu: tapi apa daya tangan tak sampai”

Warga III: “Ouh sudah diubah yah, kapan diubahnya?”

Warga I, II, IV: (serempak) “Dari dulu juga begitu!”

Ayah: “DIAM” (seraya mengarahkan ‘iteuknya’) kalian mau saya jebloskan kepenjara, dengan tuduhan pencemaran nama baik?

Warga V: “pencemaran nama baik bagaimana?”, “Toh memang kenyataannya anak bapak itu sedikit terganggu bukan?”

(mendengar demikian bapak hanya diam seribu bahasa; sedangkan emak, mengusap-usap bahunya)

Pak RT: “sudah-sudah, rusuh saja kerjaannya, apa kalian tidak malu akan umur?”, “kolokan sama orang, seperti anak SD belajar komentar saja”, “kalian lagi” (sambil mengarahkan pandangan kepada penonton dengan amarah) “ada keributan tenang-tenang saja, ga kritis, jangankan mengkritisi masalah orang lain, masalah sendiripun walohu a’lam, iyah toh, iyah toh?” “sudah, sekarang kita selesai konfliknya – ayooo bubarr!!!”.

 

1Ayang-ayang gung/ Gung goongna ramẻ/ Mẻnak tiwastanu/ Nu jadi wadana /Naha manẻh kitu/ Tukang olo-olo/ Loba anu giru/ Rupet jeung kumpeni/ Niat jadi pangkat/ Katon kagorẻngan/ Ngantos kanjeng dalem/ Lempa-lempi-lempong/ Ngadu pipi jeung nu ompong.

 

The End

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar