Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Contoh Analisis Cerpen

ANALISIS PERILAKU TOKOH DALAM CERPEN “PASUNG” DIPANDANG DARI SUDUT PSIKOLOGI SOSIAL DAN INDIVIDUAL

Diajukan untuk memenuhi salah-satu tugas mata kuliah “Kajian Apresiasi Sastra” yang diampu Indra Nugrahayu T., M. Pd.

  

Oleh:

 

Sopyan Hardyansyah

Nim: B1C100084

Semester Tiga B

 

 

Description: Logo Universitas Bale Bandung

 

Program Studi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Bale Bandung

2012

 

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….1

1.1 Latar Belakang dan Batasan Masalah……………………………………………………..1

1.1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………..1

1.1.2 Batasan Masalah…………………………………………………………………………1

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………………………………….2

1.2.1 Tujuan Penelitian………………………………………………………………………...2

1.2.2 Manfaat Penelitian……………………………………………………………………….2

1.3 Sinopsis, Metode Pendekatan dan Kajian Teori …………………………………………..3

1.3.1 Sinopsis………………………………………………………………………………….3

1.3.2 Metode Pendekatan……………………………………………………………………...4

1.3.3 Kajian Teori……………………………………………………………………………...5

1.4 Analisis, Pembahasan, Kepengarangan, dan Kesimpulan…………………………………6

1.4.1 Analisis…………………………………………………………………………………..6

1.4.2 Pembahasan……………………………………………………………………………...8

1.4.3 Kepengarangan…………………………………………………………………………11

1.4.4 Kesimpulan……………………………………………………………………………..12

Sumber Referensi

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang dan Batasan Masalah

1.1.1 Latar Belakang

Manusia dalam berperilaku selalu dipengaruhi oleh rangsangan (stimulus) dari lingkungan sosialnya. Sebagai akibatnya, stimulus tersebut akan menjadi pemikiran, perasaan, sampai pada akhirnya - akan jadi sebuah keputusan untuk bertindak. Pada awalnya, perilaku tersebut akan dimotivasi oleh orang lain hingga pada akhirnya menjadi dorongan untuk berperilaku sebagai hubungan sebab-akibat.

Perilaku manusia itu sendiri merupakan sebuah cerminan dari psikologis sosial dan psikologis individual. Adapun pengertian dari psikologis sosial adalah sebuah perilaku individu yang mencerminkan tindakan yang harus dilakukan oleh individu sebagai akibat dari perlakuan lingkungan sosial masyarakat disekitarnya; sedangkan psikologis individual akan merujuk pada pemikiran, keyakinan, dan perasaan yang sifatnya pribadi.

Kecenderungan manusia berperilaku akan didasarkan pada pemahamannya terhadap apa yang dipandangnya baik. Ini semua dilakukan dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan batin yang sifatnya abstrak.

Bagaimana seorang individu memandang subjek, objek, gagasan, dan peristiwa dalam lingkungan masyarakat merupakan sebuah aplikasi dari adanya pengaruh lingkungan yang tiada jarang memberikan pencitraan penglihatan, perasaan, dan pembauan terhadapnya untuk diproses menjadi acuan dalam bertindak.

 

1.1.2 Batasan Masalah

Sebuah karya sastra akan sulit diteliti tanpa adanya batasan masalah. Pokok bahasan akan menjadi terlalu luas, dikhawatirkan penelitian akan menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai. Suatu penelitian akan mudah dianalisis dengan membatasi masalah pada ruang lingkup penelitian yang akan dibahas. Karena masalah-masalah di atas sangat luas ruang lingkupnya, oleh sebab itu penulis membatasinya sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh lingkungan sosial, yang terbagi kedalam sub: lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat terhadap perilaku tokoh Aku?

2. Bagaimana emosional tokoh Aku dalam keyakinan, cara pandang, kematangan mental dan tindakan yang akan ia ambil?

 

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.2.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi” yang diempu oleh Indra Nugrahayu T., M. Pd.

2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan sosial, terhadap perilaku tokoh Aku dalam kumpulan cerpen berjudul “pasung” karya Lailia Suci Ramadania.

3. Untuk mengetahui bagaimana emosional tokoh Aku dalam keyakinan, cara pandang, kematangan mental dan tindakan yang akan ia ambil.

 

1.2.2 Manfaat Penelitian

Sebuah penelitian dikatakan berhasil apabila bermanfaat bagi peneliti, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini diharapkan akan dapat bermanfaat:

1. Menambah wawasan pembaca dan peneliti tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku individu.

2. Memperkaya referensi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sastra tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku individu.

3. Menjadi sumber masukan bagi peneliti berikutnya tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku individu.

4. Memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku individu yang ada dalam karya sastra.

 

1.3 Sinopsis, Metode Pendekatan dan Kajian Teori

1.3.1 Sinopsis

Cerpen yang berjudul “pasung” dalam kumpulan cerpen karya Lailia Suci Ramadania, bercerita mengenai ‘aku’ (pengarang) yang selalu diperolok oleh teman-temannya, dengan kata ‘udik’. Sedangkan kata udik itu sendiri dimaknai sebagai sebuah pola berulang untuk menyatakan keterbatasan perilaku individu dalam bertindak; baik dalam hal berfikir, memandang sesuatu, dan berperasaan. Walaupun sering dikatai udik, tokoh aku selalu tidak pernah bisa berbuat banyak untuk membela dirinya sendiri. Namun ternyata, kesabaran tokoh aku bertemu jua dengan batasnya, sehingga ia menjambak rambut teman yang selalu mengatainya udik. Tidak terpikir sebelumnya apabila tindakan tersebut akan menimbulkan bencana yang lebih besar, bukan hanya mempermalukan dirinya tetapi juga kedua orang tuanyapun jadi ikut hina dibuatnya.

Karena merasa selalu dicemooh ‘udik’ oleh teman-temannya, tokoh ‘aku’ (pengarang) berusaha memperbaiki citra dirinya agar bisa dihormati dengan cara menulis. Menulis merupakan kegiatan tokoh aku, kegiatan tersebut dilakukannya pada saat malam menjelang. Adapun perihal yang mendorongnya untuk selalu menulis adalah adanya motivasi untuk menunjukan eksistensi dirinya sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi baik. Walaupun kegiatan menulis adalah rutinitas keseharian tokoh aku, namun demikian ternyata kedua orangtuanya tidak pernah mengetahui akan hal tersebut. Hal ini dinyatakan dalam kutipan berikut:

Emak ataupun Abah tak akan membiarkanku mengunjunginya. Jadilah duduk di tempat tinggi itu adalah pekerjaan rutinku. Jika tidak, mana mungkin setiap kali malam tiba aku akan duduk di tempat itu.”

Cemoohan yang sering terlontar kepadanya, membuatnya kehilangan batas kesabaran, hingga akhirnya tokoh aku (pengarang) menjambak rambut teman yang mencemoohnya. “… bahkan pernah kusentuh rambutnya yang kini terlihat acak-acakan. Dan kalau tidak salah lagi, rambut itu baru saja kujambak tadi siang. Entahlah, aku lupa….” Namun, dengan tindakan tersebut akhirnya justru menimbulkan masalah baru baginya dan kedua orang tuanya. Merasa tindakannya serbasalah, emak tidak banyak menanggapi kejadian yang menimpa keluarganya, ia hanya bisa menahan perih hati sembari mengusap-usap kepala anaknya. Perhatikan kutipan berikut: “Emak tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan jarang. Akan tetapi, aku yakin kalau emak bukanlah wanita bisu”. Adapun faktor yang menyebabkan ‘Emak’ jarang berbicara adalah karena pada saat itu telah terjadi masalah yang diakuinya sebagai kesalahan dari anaknya ‘Aku’ (pengarang). Selain itu, diamnya Emak juga bisa ditafsirkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap anaknya. Dalam dunia politis, perilaku seperti ini dinamai: bahasa diplomatis (tidak menyatakan sesuatu secara tidak langsung, melainkan dengan strategi halus).

 

1.3.2 Metode Pendekatan

Karya sastra tidaklah bersifat otonom, yang mengandung pengertian ada satu keterkaitan unsur-unsur didalamnya. Baik itu unsur-unsur psikologis pengarang sebagai penciptanya, alam semesta sebagai inspirasi dan imitasi bagi karya sastra, serta pembaca sebagai penerima pesan yang akan menafsirkan makna karya sastra dari sudut pandangnya. Oleh karena itu, dalam menganalisis cerpen “Pasung” dalam kumpulan cerita parodi kecil karya Lailia Suci Ramadania, penulis mempergunakan metode pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis sendiri mengandung pengertian suatu pendekatan yng dipergunakan dalam mengkaji karya sastra berdasarkan konteks sosial atau segi-segi kemasyarakatannya. Artinya penikmatan karya sastra akan memperkaya nuansa kehidupan masyarakat sehingga apresiator dan penikmat sastra bisa mengetahui pola kemasyarakatan yang terkandung didalam karya sastra.

 

1.3.3 Kajian Teori

Untuk memahami karya sastra, penulis dalam hal ini mempergunakan kajian semiotika dan kajian sosiologi sastra. Adapun pengertian dari kajian semiotika itu sendiri adalah suatu kajian yang menekankan konsentrasi pada tanda-tanda sebagai suatu makna. Sedangkan kajian sosiologi sastra adalah suatu kajian yang menekankan adanya perhatian terhadap karya sastra sebagai hasil dari kebudayaan sosial fenomena di masyarakat. Hal ini sejalan dengan “Ian Watt yang menjelaskan hubungan timbal balik sastrawan, sastra, dan masyarakat sebagai berikut: 1) konteks sosial pengarang yang berhubungan antara posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dengan masyarakat pembaca. Termasuk factor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan selain mempengaruhi karya sastra. 2) sastra sebagai cermin masyarakat, yang dapat dipahami untuk mengetahui sampai sejauhmana karya sastra dapat mencerminkan keadaan masyarakat ketika sastra uitu ditulis, sejauh mana gambaran pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat atau fakta sosial yang ingin disampaikan, dan sejauh mana karya sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat. 3) fungsi sosial sastra, untk mengetahui sampai berapa jauh karya sastra berfungsi sebagai perombak, sejauh mana karya satra berhasil sebagai penghibur, dan sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial” (Damono, 2004:3).

Junus (1985: 84-86) mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Ia juga menyangkut penelitian mengenai penghasilan dan pemasaran karya sastra. Termasuk pula penelitian tentang penerimaan masyarakat terhadap sebuah karya sastra seorang penulis tertentu dan apa sebabnya. Selain itu juga berkaitan dengan pengaruh sosial-budaya terhadap penciptaan karya sastra, misalnya pendekatan Taine yang berhubungan dengan bangsa, dan pendekatan Marxis yang berhubungan dengan pertentangan kelas. Tak boleh diabaikan juga dalam kaitan ini pendekatan strukturalisme genetic dari Goldman dan pendekatan Devignaud yang melihat mekanisme universal daro seni, termasuk sastra. Sastra bisa dilihat sebagai dokumen sosial-budaya yang mencatat kenyataan sosio-budaya suatu masyarakat pada suatu masa tertentu. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Bagaimanapun karya sastra tersebut mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Dengan demikian, sosiologi sastra menaruh perhatian pada documenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya fenomena sosial bersifat konkrit, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang diangkat kembali menjadi wacana baru dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dan sebagainya) dalam bentuk karya sastra.

Berdasarkan uraian diatas, analisis prosa fiksi dengan menggunakan teori sosiologi sastra dapat dilakukan atas tiga langkah. Langkah pertama adalah menganalisis struktur suatu karya sastra. Langkah kedua mendeskripsikan bagaimana konteks sosial teks tersebut harus dikaitkan dengan konteks sosial dunia nyata atau zamannya. Langkah ketiga mendeskripsikan bagaimana nilai sosial atau fungsi sosial karya dalam masyarakat. Artinya kita harus melihat bagaimana masyarakat memandang karya sastra itu.

 

1.4 Analisis, Pembahasan, Kepengarangan, dan Kesimpulan

1.4.1 Analisis

Tokoh ‘aku’ (pengarang) merasa rendah diri dengan menyatakan: “Aku hanya seorang gadis udik”. Adanya pernyataan demikian, merupakan sebuah pengakuan tidak langsung, dari perasaan diri pribadi tokoh aku, yang menyatakan bahwa pada dirinya terdapat kekurangan-kekurangan secara fisik maupun non fisik atau rohani maupun jasmani. Tiada jarang dari perasaan tersebut, tokoh aku merasa rendah diri. Perhatikan kutipan berikut: “Tapi entah mengapa, aku tidak dapat marah”. Pernyataan yang mewakili makna kepasrahan dan penerimaan atas ketidak sempurnaannya. Dalam situasi cemoohan orang lain, tokoh aku merasa dirinya rendah, sehingga ia terus berkecil hati.

“… aku malas jika harus berkumpul dengan teman-teman sebayaku yang mulai membicarakan keadilan”. Dalam hal ini tokoh aku mengalami krisis kepercayaan terhadap nilai-nilai idealis yang diagungkan teman sebayanya. Adapun sebabnya adalah, perlakuan tidak adil teman sebayanya yang selalu menempatkan posisi tokoh aku dalam kedudukan tidak menguntungkan yang dirasakannya ‘tidak adil’; bahkan dalam hal ini tokoh aku dikatakan telah mengalami frustasi sebagai akibat dari perlakuan yang tidak mengindahkan hak manusiawi, yakni kurangnya penghargaan terhadap hak-hak dasar manusia. Banyaknya perlakuan tidak baik terhadap individu bisa mengurangi rasa kepercayaan terhadap sesama. Hal ini dikarenakan dalam interaksi untuk bekerjasama memenuhi kebutuhan, manusia akan saling percaya satu-sama lain.

Tokoh aku menggugat perilaku tidak normatif teman sebayanya, sehingga menimbulkan alasan untuk memperkuat keyakinan agar tetap tidak mengindahkan nilai idealisme teman-temannya. Perhatikan kutipan berikut: “Tapi mereka tidak pernah mencoba melakukan keadilan. Paling tidak lagi, jangan sebut aku orang udik sambil menempelkan kedua jari didahiku, sampai kepalaku terjengkang ke belakang.” Bentuk pertahanan harga diri tokoh aku, disiratkan dalam kutipan berikut: “Untung leherku masih bisa menahannya, jika tidak, aku akan kerepotan jika kepalaku tiba-tiba menghilang.” Kalimat tersebut merupakan kalimat sindiran dengan gaya bahasa menyatakan sebagian tubuh untuk keseluruhan. Walaupun mengalami krisis percaya diri, tokoh aku tetap optimis dalam pola pikirnya. Perhatikan kutipan berikut:

Belakangan aku selalu berdiri di atas tempat yang lebih tinggi. Dengan begitu, aku bisa merasakan kalau aku lebih tinggi dari mereka. Dan mereka akan lelah mengatakannku udik karena harus sambil menengadahkan kepala.”

Tokoh aku selalu merasa nyaman dan percaya diri akan kelebihan dirinya bila ia ada didalam imajinasinya sendiri. Perhatikan kutipan berikut:

Jauh diujung sana, banyak warna yang berkelip mengedipkan mata kearahku. Diatas langit yang hitam deretan kelap-kelip selalu terlihat. Merah, kuning, biru, putih, dan… entahlah, terlalu banyak kelipan itu. Sekalipun tidak sama dengan bintang yang jauh lebih indah, tapi semua itu dapat mewakili malam-malam yang akhir-akhir ini sepi dikunjungi oleh rangkaian bintang. Hanya saja aku tidak tahu dimana tempat itu berada. Kalaupun tahu, Emak dan Abah tak akan membiarkanku mengunjunginya. Jadilah duduk ditempat tinggi itu adalah pekerjaan rutinku. Jika tidak, mana mungkin setiap kali malam tiba aku akan duduk di tempat itu.”

Kata ‘diatas langit yang hitam’ bisa dimaknai sebagai dalam kehidupanku yang kelam, bila ditinjau dari sudut perspektif pembaca; Sedangkan warna kelipan bisa dimaknai sebagai harapan. Penulis bisa memaknai kalimat tersebut dengan pemaknaan dari sudut pembaca, ialah dikarenakan tokoh aku (pengarang) selalu dicemooh oleh teman-teman sebayanya, sehingga semua kehidupannya tidak bahagia untuk kemudian dimungkinkan pencipta karya sastra mengemas makna kesuramannya dalam kata diatas langit yang gelap. Bila mengindahkan hakikat manusia yang selalu menghendaki kesempurnaan hidup, maka wajar bila dalam kemelut masalahnya tokoh aku mengharapkan adanya keindahan yang berbentuk harapan kebaikan.

Keterlepasan pemantauan orang tua terhadap aktivitas anaknya, dimungkinkan juga menjadi salah satu penyebab dari kelamnya kehidupan tokoh aku, sehingga ia selalu mengimajinasikan berbagai hal yang menurutnya indah. Perhatikan kutipan berikut:

Kalaupun aku tahu, Emak ataupun Abah tak akan membiarkanku mengunjunginya. Jadilah duduk ditempat tinggi itu adalah pekerjaan rutinku. Jika tidak, mana mungkin setiap kali malam tiba aku akan duduk di tempat itu.”

 

1.4.2 Pembahasan

Dalam hal ini, penulis akan membahas mengenai bagaimana situasi dan kondisi lingkungan sosial dapat berpengaruh terhadap individu lain di masyarakat.

Telah dibahas sebelumnya dalam bagian abstrak bahwa “Manusia dalam berperilaku selalu dipengaruhi oleh rangsangan (stimulus) dari lingkungan sosialnya.” Sesuai kodratnya manusia merupakan mahluk sosial yang memerlukan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian manusia akan selalu berupaya berinteraksi dan berinterelasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Pengertian dari interaksi sendiri merupakan sebuah hubungan sosial yang dilakukan manusia sebagai usaha untuk: bekerjasama dan memenuhi hasrat. Bentuk interaksi ini sendiri bisa dilakukan secara bahasa verbal (bahasa lisan) dan bahasa non verbal (bahasa ‘gesture’ atau gerak tubuh). Dari hasil interaksi ini menimbulkan interelasi sebagai hubungan sebab-akibat dari adanya hubungan itu sendiri. Dalam kenyataannya, interelasi ini menimbulkan respon, sebagai tanggapan dari adanya stimulus dari luar tubuh individu yang diproses menjadi persepsi (pemikiran) dan dikeluarkan dalam bentuk tindakan.

Perilaku manusia itu sendiri merupakan sebuah cerminan dari psikologis sosial dan psikologis individual. Sebagai cerminan perilaku sosial, manusia dirangsang oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam lingkungan sosialnya. Faktor-faktor tersebut bisa berbentuk: perhatian dan perlakuan dari anggota kelompok; bagaimana kebudayaan setempat; serta situasi dan kondisi fenomena sosial yang melingkupi kehidupan individu didalam kelompok sosialnya.

Sedangkan untuk psikologis yang sifatnya individual, bisa diterjemahkan sebagai faktor bawaan biologis (keturunan) dan sifat unik manusia itu sendiri. Bagaimana ukuran ketampanan atau kecantikan serta bentuk badan seseorang bisa menentukan kepercayaan diri, keoptimisan, kemauan, dan kemampuan diri. Sifat unik manusia sendiri, biasanya tumbuh dan berkembang didalam tubuh manusia sebagai hasil dari pembiasaan, pendidikan, dan sejarah individu yang menuntunnya kearah pemikiran serta perasaan yang baru – cara pandang adalah salah satu hasilnya.

Tindakan sebagai sebuah usaha dalam berperilaku merupakan jalan untuk menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi, baik itu telah direncanakan sebelumnya maupun spontanitas.

Adapun faktor-faktor yang diasumsikan berpengaruh terhadap perilaku tindakan tokoh dalam cerpen “Pasung” karya Lailia Suci Ramadania adalah sebagai berikut:

a.       Pengaruh lingkungan sosial, yang terbagi kedalam sub: lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat,

b.      Pengaruh emosional tokoh dalam keyakinan, cara pandang, kematangan mental dan tindakan yang akan ia ambil.

Terkait dengan asumsi berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku tindakan tokoh seperti diatas, penulis akan berusaha memaparkannya dengan cara membandingkan penafsiran makna hasil analisis penulis dengan inspirasi pengarang ketika menciptakan cerpen yang berjudul “pasung” karya Lailia Suci Ramadania. Sebelumnya penulis mewawancara pengarang terlebih dahulu sehingga didapatlah data primer yang bersifat kualitatif, berupa keterangan-keterangan pengarang. Adapun perbandingannya adalah sebagai berikut:

Penafsiran makna berdasarkan sudut pandang penulis:

Novel tersebut bercerita mengenai seseorang yang mengalami frustasi sehingga ia tidak lagi percaya akan nilai-nilai idealis orang-orang disekitarnya, hal tersebut dikarenakan tokoh aku banyak mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari lingkungan sosialnya seperti lingkungan keluarga dan teman sepermainannya yang melebeli dirinya, dalam hal ini tokoh aku dengan selalu menyebutnya udik. Sehingga ia berkeyakinan bahwa benar-benar dirinya adalah seseorang yang udik. Sedangkan kata udik sendiri merupakan kata yang ditujukan kepada seseorang yang memiliki kekurangan dari segi biologis (kepintaran, kecerdasan, psikomotor, motorik, kondisi badan dll). Karena kecenderungan tokoh aku sering dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosialnya, maka tokoh aku berkeyakinan bahwa hanya dirinyalah yang bisa menghargai keadaannya secara apa adanya. Hal tersebut ditunjukan dengan eksistensi tokoh aku yang memiliki kecenderungan mengasingkan diri. Disatu sisi hal tersebut berguna untuk melindungi dirinya dari orang–orang disekitarnya, sehingga ia tidak akan merasa terancam, terhina, dan rendah diri. Sedangkan disisi lain kecenderungan perilaku tersebut justru membuat orang-orang disekitarnya tidak mengerti dan memahami keadaannya yang sebenarnya, dikarenakan jarang berinteraksi dan berinterelasi. Selain itu, kemungkinan besar orang-orang disekitarnya menganggapnya telah tidak ada, sehingga dikhawatirkan keberadaannya diacuhkan banyak orang. Maka hiduplah ia didalam dunianya sendiri, dengan peristiwa-peristiwanya sendiri yang serba sesuai dengan kemauannya sendiri – yakni dunia imajinasi.

Bila itu dari penafsiran makna dalam segi sudut pandang pembaca sebagai apresiator karya yang menafsirkan makna melalui proses membaca dan mengenali tanda-tanda, maka hal tersebut akan berlain hal dengan pandangan pengarang ketika ia menciptakannya. Terkait dengan hal tersebut, pangarang memandang karya sastra dari mana imajinasi tersebut dapat menjadi sebab-akibat dalam peristiwa dalam cerpen. Berikut adalah data-data pandangan pengarang terhadap karya berdasarkan imajinasi yang menjadi inspirasi terbentuknya peristiwa dan makna dalam cerpen tersebut:

Pengarang menyatakan bahwa sebenarnya tokoh aku tersebut diinspirasi oleh orang gila yang selalu dianggap aneh oleh orang-orang normal disekelilingnya, baik itu dari segi penampilan, cara bertindak (berperilaku), dan cara berfikir, namun demikian ternyata sebenarnya orang gilapun justru berfikiran serupa dalam memandang orang-orang normal, bahwa orang normalpun juga aneh (udik). Inspirasi ini didapat pengarang dari pernyataan guru SMAnya yang menyatakan bahwwa orang gilapun memandang aneh orang normal. Namun demikian, sebenarnya orang gillapun sama normalnya dengan orang normal, hanya saja berbeda pola perilaku dalam menentukan baik-tidak baiknya suatu perihal dalam bertindak. Sebagai contoh: ketika hujan maka orang normal akan berteduh, dikarenakan takut kedinginan dan akhirnya sakit, begitupun dengan orang gilla, merekapun bertindak serupa untuk melindungi dirinya. Perbedaannya adalah, jika orang normal memandang aneh (udik ) orang gila karena perilaku tindakannya, maka orang gila memandang aneh (udik) terhadap orang normal dikarenakan perhatian dan pandangan orang normal yang selalu memandang aneh orang gila.

Jelas dalam penafsiran makna yang dihasilkan dari sudut pandang pembaca sebagai apresiator karya sastra dengan sudut pandang pengarang sebagai pencipta karya sastra berbeda. Namun dari keduanya dapat ditarik kesimpulan bahwa: pola tindak perilaku individu dipengaruhi oleh perasaannya, keyakinannya, pandangannya terhadap stimulus lingkungan disekitarnya, apakah itu lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial.

 

1.4.3 Kepengarangan

Lailia Suci Ramadania adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ia lahir di Bandung, 8 Maret 1992 jam 12 malam. Ia pernah tinggal di Mohammad Toha selama tiga tahun, untuk kemudian ia sekarang bertempat tinggal di Banjaran. Ia adalah lulusan dari TK Yastrib, umur tujuh tahun melanjutkan ke SD Purwawinaya, sedangkan SMP di SMPN 2 Baleendah, setelah lulus kemudian melanjutkan ke SMAN 1 Banjaran, dan saat ini sedang melanjutkan studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Bale Bandung, Program studi Bahasa Inggris. Sebelum masuk UNNIBA, ia menunda melanjutkan studinya selama satu tahun, dikarenakan tidak lulus di UPI. Ayahnya Herwin Wibowo adalah seorang guru kesenian di SMPN II Baleendah; sedangkan ibunya Sari Dewi adalah seorang ibu rumah tangga. Prestasi yang pernah diraihnya seperti: lomba artikel UNPAS dari Hima Biologi dengan tema mengenai remaja; lomba cerpen: lomba memperebutkan piala dari Kepala sekolah Sman 1 Banjaran (tingkat sekolah) dengan judul “Bayangan Ibu”. Selama bersekolah di SMAN 1 Banjaran ia aktif di bidang jurnalistik Selasar dan berkedudukan sebagai Redaksi Penerbitan bulletin selasar, selain itu juga ia bertindak sebagai pemimpin redaksi dan sekertaris redaksi. “Senyum lebar rejeki lancar” merupakan moto pribadinya, dan “Hidup mengikuti waktu bukan mengejar waktu” adalah moto umumnya.

 

1.4.4 Kesimpulan

a. Lingkungan sosial, yang terbagi kedalam sub: lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat, berpengaruh terhadap psikologis individu lain dalam bertindak dan berperilaku. Pengaruh tersebut tumbuh sejalan dengan interaksi dan interelasi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, begitupun sebaliknya.

b. Emosional individu dalam keyakinan, cara pandang, kematangan mental dan tindakan yang akan ia ambil merupakan respon dari adanya stimulus luar dirinya.

 

SUMBER REFERENSI

Mutakin, Awan dan Djaenal. 1992. Psikologi Sosial: Bandung

Nugrahayu, Indra, Taufik,. 2011. Panduan Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi Indonesia: Baleendah.

 

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar