Sopyan Hardyansyah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Contoh Cerpen

SULAMAN PENGERTIAN

 

Aku tidak akan pernah menangishanya karena kehilangan teman alay seribu orang. Aku tidak akan menangis sayang. Namun yang kutangisi sekarang adalah, teman alay seperti itu ternyata berpengaruh juga terhadap perasaanku. Mereka sebenarnya baik, namun cara pandang mereka yang alay itulah yang seringkali membuatku muak dan menjauhinya, walau sebenarnya sering kucoba untuk memahami dan menyayangi anak-anak alay tersebut. aïfada daya, mereka kan anak alay. Yang kerjanya updet status facebook: “aku inginkan kehadiranmu”, “hari ini aku sebel karena si doi ga datang ngapel”, “ih mau makan baso”, atauaku ingin mati saja, toh ga ada yang memperdulikanku”. Dalam arus kesadaranku, aku yakin bahwa mereka hanya bisa melihat kesalahan-kesalahan orang lain saja, tanpa berusaha merenungkan kembali perbuatannya. Ini semuanya gara-gara sinetron, aku yakin anak-anak alay itu tercipta karena mereka tidak terbiasa untuk merenung, berfikir, dan mengekspresikan dirinya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Kalau tidak percaya pelajari saja sinetron!; semuanya serba glamour, indah, merengek, tapi kan, tidak begitu dalam dunia realitas. Disini yang dituntut adalah spontanitas tanggap terhadap keadaan, yakni bisa memahami situasi dan kondisi yang sedang menjadi peristiwa dalam kehidupannya saat ini, tapi apa daya, mereka anak alay, saya bilang kan begitu. Selalu mengharapkan kebahagiaan dengan imajinasinya sendiri, berharap suatu hari ada seseorang, bertemu dan mengakuinya sebagai saudara kembar, tentu saja orang yang datang itu haruslah sempurna dalam segala hal: mapan dalam keuangan, tampan atau cantik, dan serba unggulan. Dan apapun bisa terjadi dalam dunia imajinasi. Sampai akhirnya, mereka kini jauh darikujauh sekali, walaupun sebenarnya mereka teramat dekat, bahkan orang-orangnya selalu ada disekitarku. Dimana-mana mereka ada, hanya tidak aïfada anak alay di perpus alias perpustakaan sekolah. Tempat mereka kan biasanya ditukang jajanan, mol, tempat tongkrongan, yah begitulah meniru-niru gaya hidup kesinetronan, katanya sih untuk mendongkrak popularitas, lol J. Sebelum akhirnya ku baca buku psikologi kepribadian, tidak kusangka, perilaku mereka yang alay begitu ternyata disebabkan salah satu faktornya adalah karena aku juga, perasaanku seketika jadi malu karena prasangkaku yang selalu mengatakan mereka itu selalu menyalahkan orang lain, tanpa berusaha merenung dan berfikir mengapa? Dan apa penyebabnya. Dalam buku itu disebutkan bahwa mereka mengalami psikologis sosial, yang mendasarkan perilakunya didasarkan pada cerminnan bagaimana perlakuan dari lingkungan terhadapnya, dan salah satunya adalah perlakuanku terhadapnya. Bagaimana tidak?, aku selalu berada jauh disisi mereka, padahal aku adalah orang penting yang selalu mereka butuhkanakukan memilikijabatanpenting, yang seharusnya selalu siap untuk melayani kebutuhan mereka. Tapi aku tidak suka mereka, yang mana semua kebutuhannya harus aku yang tangani, bila ada kesalahan… “kan kamunya”, “kamu kan …, seharusnya…”, “ini bagaimana …”, atauayo dong … jangan diam aja”, memang untuk satu-duakali kebutuhan mereka, aku pahami dan mengerti untuk segera membantunya, akan tetapi lama-kelamaan mereka seenaknya saja perintah ini-itu, sehingga nyatalah mereka teramat rendah dihadapanku alias tidak mandiri, tidak punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Jauhnya mereka dariku kini, adalah sebabku yang tidak mau mengerti kelemahan mereka, atau saking aku jauhnya dari mereka, akhirnya mereka tidak mengenal dan memahami kebutuhanku; sedangkan manusia adalah mahluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan, diluar sana banyak sekali ilmu pengetahuan yang tidak aku miliki, sehingga perpuslah solusinya, diluar sana, banyak perkembangan informasi dan tekhnologi, sehingga warnetlah tempatku berada, dan diluar sana, setelah aku lulus sekolah nanti, aïfada banyak pertanyaan mengenai berapa banyak pengalamanku dalam mendalami program studiku, dan seberapa banyak wawasanku terhadap perkembangan zaman dewasa ini? Maka jawabannya adalah dunia maya, dimana disana aku akan temui berbagai peluang berkomunikasi dengan berbagai kalangan, apakah itu penulis, sastrawan, kreatif disain, programmer, atau lainnya, sehingga memungkinkan bagiku lebih banyak meraup pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman; sedangkan mereka? Ya begitulahpengalamannya mungkin hanya berkutat padabagaimana makanannya, “dimana beli baju itu?”, ataubagaimana pacarmu??”, memuakan! – “mengapa mereka tidak pernah bertanya, ‘mengapa kamu menjauhi kami?’ semuanya sudah terlanjur, mereka menjauhiku karena tidak memahamiku. Sekarangaku tidak perlu menangisi semuanya, tugasku adalah membuat mereka percaya, respek, dan tidak perlu tergesa-gesa meraup mereka kembali, dan bukankah jika tergesa-gesa dalam menuntut orang lain akan membuat mereka ketakutan dibuatnya?, naif memang, tapi untunglah aku bisa memahami situasi dan kondisi sekarang, berkat aku pernah jauh dari mereka. Walaupun sebenarnya mereka sekarang sedang menjauhikuTuhan memang adilayo! Pahami merekaitulah salah satu spiritku untuk bisa terus berusaha meraup mereka kembali.

24 Februari 2012

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar